Déjà vu Mia #1

Aku berdiri di sudut dapur sambil menata gelas-gelas yang baru saja kucuci. Sedikit melamun, kurasa aku tidak memikirkan apa pun, hingga ya.... deja vu. Dengan sedikit terkejut aku memalingkan badanku ke arah meja makan. Mataku menangkap dua gelas jus alpukat dan kemudian.... deja vu lagi. Bisa-bisanya mengalami dua kali deja vu dalam rentan waktu yang sangat sebentar. Hmmm, aku bahkan sering mengalami tiga deja vu atau bahkan empat deja vu yang berbeda dalam rentan waktu yang sama, seperti rentetan kejadian yang dimana diriku sudah mengalami itu sebelumnya.

Deja vu adalah kondisi ketika kita merasakan suatu peristiwa yang sedang terjadi seakan-akan sudah pernah kita alami atau pernah kita rasakan sebelumnya. Banyak pembahasan-pembahasan hingga teori-teori mengenai hal tersebut. Dimulai dari gangguan pada otak, stress, hingga teori kepercayaan bahwa deja vu terjadi karena kita sudah pernah hidup sebelumnya, sehingga jiwa di beberapa kesempatan mengenali sebuah peristiwa yang sedang terjadi, karena sejatinya peristiwa itu memang sudah terjadi di kehidupan sebelumnya.

"Hei. Kok melamun?" Kaia menghamburkan lamunanku.

"Hah iya? Tidak melamun, kok." aku menghampiri meja makan dan meraih jus alpukat yang sebelumnya sedari tadi aku pandang.

"Wah, terima kasih, Mia." Kaia meraih jus alpukat yang lain dan segera mencicipinya.

"Kamu sering deja vu tidak, Kaia?" tanyaku tiba-tiba. Aku pernah berada di situasi dimana aku sangat bingung mengenai deja vu yang kualami saking seringnya, membuat diriku bertanya kesana kian-kemari, 'Apakah kalian mengalaminya juga?' Namun setelah beranjak dewasa, aku perlahan-lahan menjadi terbiasa dengan deja vu-ku. Walaupun tetap saja saat mengalaminya aku selalu merasa sedikit terkejut. Dan ini kali pertama aku menanyakan perihal deja vu kepada Kaia. 

"Tidak sering, tapi pernah. Beberapa kali. Kenapa?" tanya Kaia balik.

"Aku kok sering banget ya deja vu." aku duduk di kursi makan, "Menurutmu, itu normal tidak?"

"Tidak tahu, ya. Mungkin karena kamu banyak pikiran kali? Kamu kan lagi sibuk-sibuknya ngerjain proyek benda-benda langitmu." Kaia ikut duduk di kursi makan, tepat di depanku. "Istirahat. Malam tadi tidur jam berapa?" 

Aku mengingat-ingat. Memang belakangan ini aku sangat sibuk. Setelah mengerjakan proyek black-hole, sekarang lanjut dengan Kepler-22b. "Jam 3." aku menghela nafas.
    
"Tidur jam 3, bangun jam 7." sahut Kaia dengan nada menyindir.
  
"Hei, tapi aku pernah baca, tidur selama 4 jam itu cukup untuk orang dewasa, asalkan tidurnya nyenyak." aku sedikit mengeraskan suaraku, membela diri, karena Kaia adalah orang yang paling ribet dengan tidur larut malamku. "Tapi setidaknya ditambah tidur siang 2 atau 3 jam." lanjutku pelan.

"Kamu tidur siang tidak?" Kaia nampak kesal. Aku hanya bisa terkekeh.

Aku sudah sering mengalami deja vu sedari aku kecil. Ibuku pasti sudah sangat bosan mendengar celotehanku mengenainya, "Ibu, mengapa rasanya kita sudah pernah kesini?" "Ibu, mengapa tempat ini sangat familiar?" "Ibu, aku baru saja deja vu." "Ibu, aku deja vu." "Ibu, aku deja vu lagi." "Tahu tidak bu? Aku deja vu sekali sekarang."

Bukan hanya Ibuku yang sering mendengar celotehan-celotehanku mengenai deja vu yang aku alami. Ayahku pun juga. Berbeda dengan Ibu. Ibu akan mengatakan, "Itu hal biasa." Namun Ayahku akan sangat bersemangat ketika aku mengadukan perihal deja vu-ku kepadanya, "Apa yang kamu rasakan?" "Benarkah? Kamu seperti sudah pernah ke tempat ini?" "Kamu merasa bus itu sudah pernah melewati kita?" hingga suatu ketika aku sedang duduk bersama Ayah di kantin sekolah dasarku. Saat itu aku berusia 7 tahun. Aku bahkan sangat ingat corak baju yang Ayah gunakan. Saat itu, aku sangat familiar dengan suasana yang aku rasakan. Seakan-akan aku sudah pernah mengalaminya. Duduk bersama Ayah. Memesan Tortilla dan Gazpacho. Menunggu pesanan kami tiba. Hingga mendapati seorang perempuan tua mengambil tempat untuk duduk di meja yang berada sebelah kami. Perempuan tua itu duduk persis di sebelah Ayah yang sedang duduk di depanku. Aku berkata kepada Ayah, "Ayah, aku sudah pernah merasakannya."

Ayah tersenyum, "Deja vu lagi?" kata "deja vu" memang pertama kali kudengar dari Ayah. Ayah juga yang pertama menjelaskan makna deja vu kepadaku. Ayah mengatakan, "Deja vu itu terjadi karena kamu sudah pernah merasakan suasana, nuansa, atau energi yang sedang kamu alami." 

"Aku seperti sudah pernah kesini bersama Ayah. Persis seperti ini." kataku.

"Itu karena Ayah sudah beberapa kali makan siang bersamamu di sini. Tentu saja kamu sudah pernah kesini bersama Ayah." Ayah melipat tangannya di meja. Memandangiku lagi dengan senyum hangatnya. Menunggu kalimat yang akan kuucapkan selanjutnya. Aku benar-benar mengingatnya, bahkan wajah Ayah yang saat itu belum dipenuhi oleh garis-garis wajah yang menua.

"Tidak, Ayah. Ini berbeda." aku meyakinkan Ayah.

"Lalu, apalagi yang kamu rasakan?" masih dengan senyum hangatnya Ayah bertanya.

"Perempuan itu. Aku merasa sudah pernah melihatnya duduk persis di sana." aku menunjuk perempuan tua yang duduk di sebelah Ayah. Ayah menolehkan kepalanya. Memandangi perempuan tua itu. Perempuan tua itu ikut memandangi Ayah. Dia tersenyum. Ayah pun ikut tersenyum kemudian menolehkan lagi kepalanya memandangiku, "Benarkah?"

"Benar, Ayah." aku mangut-mangut.

"Baiklah, cerewet." Ayah tertawa kecil sambil mengacak-acak rambutku.


Comments

Popular Posts