Déjà vu Mia #2

Namaku Mia Malronna. Umurku 22 tahun. Aku sedang berada di tahun keduaku sebagai mahasiswa Astronomi. Sebenarnya, aku sama sekali tidak mengambil Astronomi sebagai fokus studiku untuk suatu pekerjaan. Aku benar-benar hanya suka belajar mengenai benda-benda langit dan cabang keilmuwannya, itu saja. Berbeda denganku, kakakku, Paolo, yang terpaut usia hanya satu tahun denganku, tak terlalu menyukai langit. Ya, terkadang dia sangat antusias melihat sunset. Hmmm, lagian siapa yang tidak? Maksudku, kesukaannya terhadap langit hanya sebatas wajar, seperti manusia pada umumnya. Tidak seperti aku atau para pecinta langit lainnya, yang benar-benar suka memandangi langit dengan segala fantasinya. Paolo, kakakku, lulusan studi hukum. Dia baru saja diterima di sebuah instansi peradilan sebagai Analis Peradilan. Dia berencana menjadi Hakim setelah setidaknya sudah 5 tahun menjadi Analis Peradilan.

Kesukaanku terhadap benda-benda langit mulai benar-benar kurasakan saat aku baru masuk sekolah menengah pertama, saat usiaku 12 tahun. Aku merasakan suatu perasaan yang luar biasa ketika memandang langit. Tetapi, hal itu tidak hanya dialami olehku. Aku pernah bergabung ke dalam klub pecinta langit semasa di sekolah menengah atas. Beberapa orang juga mengatakan bahwa mereka merasakan perasaan yang sama, perasaan yang tidak biasa. Perasaan itu membuat tenang. Membuat kita memikirkan apa pun yang terjadi, mau seberat apa pun itu, sangat tidak dapat dibandingkan dengan banyaknya benda-benda langit di luar sana. Dalam artian, sebuah permasalahan yang kita hadapi di Bumi hanyalah partikel terkecil atom di luar angkasa.

Ah, mengingat kecintaanku pada langit dan diriku yang sekarang sudah menjadi mahasiwa Astronomi, aku jadi teringat Ibuku. Dia juga menyukai langit. Tetapi tidak mempelajarinya lebih dalam sepertiku. Kami kerap memandangi langit di halaman belakang rumah. Berbaring di rerumputan, terpaku memandangi bintang-bintang yang bertaburan. Sesekali saling memandang dan banyak berbincang.

"Bu, kenapa bintang-bintang itu berkedip?" 

"Itu karena cahaya mereka melewati atmosfer, sedang udara di atmosfer begitu kencang sehingga membuat cahaya-nya seakan-akan berkedip, sayang."

Ibuku seorang pebisnis. Dia memasarkan aneka produk dari brand-brand terkenal di tabloid miliknya, La Hermosaz de Vida. Dia benar-benar seorang wanita karir yang sukses. Dia mendirikan La Hermosaz de Vida saat mengandungku. Hanya butuh 3 tahun, dia sudah dapat mempekerjakan lebih dari 200 pegawai. Pekerjaan itu mengikatnya pada rutinitas yang melelahkan. Meninggalkan rumah saat matahari belum sepenuhnya terbit dan kembali saat bintang-bintang telah dapat dinikmati keindahannya. Itulah mengapa kami sering menghabiskan waktu di halaman belakang, memandangi bintang-bintang. Dan itulah mengapa akhirnya Ibu dan Ayah berpisah. Ibu terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sedang Ayah butuh perhatian. Menjadi wanita karir saat sudah berkeluarga memang sulit. Aku tidak menyalahkan Ibu, pun juga Ayah. La Hermosaz de Vida adalah mimpi Ibu sedari lama dan menjadikannya sebagai salah satu tabloid terkenal di Barcelona waktu itu adalah suatu pencapaian yang hebat. Tetapi, Ayah juga membutuhkan Ibu. Ayahku seorang fisioterapis yang membuka klinik di rumah. Tentu membuatnya memiliki banyak waktu senggang. Ketidakberadaan Ibu benar-benar membuatnya merasa kesepian dan gelisah setiap saat. Selain itu, peran Ayah yang lebih banyak merawat dan mendidikku menjadi bahan pembicaraan tetangga dan kerabat. Hal itu membuat Ayah semakin tak karuan dan hilang arah. Seakan-akan kesuksesan Ibu membuat kejantanan-nya terancam. Sedangkan, Ibu tidak goyah. Dia memang memiliki pendirian yang teguh luar biasa.

Ibuku, Rania, wafat 12 tahun yang lalu. Usiaku 10 tahun dan Ibu baru saja berpisah dengan Ayah. Aku bersamanya saat kecelakaan itu. Saat itu, Ibu dan aku ingin mengunjungi Nenek. Kami rutin mengunjungi Nenek setidaknya seminggu sekali. Salju menyelimuti jalanan kota Istanbul dengan lembut, sedang perkarangan rumah-rumah bersalju penuh. Suara mobil terdengar tenang karena memang Ibu sangat berhati-hati mengendarainya. Suasana jalanan benar-benar sepi kala itu.

Kami baru saja keluar dari komplek perumahan, Ibu mengalihkan pandangannya ke arahku, "Sudah berkali-kali Ibu bilang, gunakan sabuk pengamanmu, Mia." kalimat Ibu waktu itu terdengar penuh dengan ketegasan.

Aku yang sedang asyik memainkan Minecraft di ponsel Ibu tidak menghiraukan. Aku sebenarnya ingin sekali segera menuruti perkataan Ibu, tetapi permainan itu begitu menarik sehingga membuatku ingin menikmati sedikit lebih lama sebelum mengenakan sabuk pengaman. Namun, bencana memang tidak dapat diduga. Ibu tiba-tiba berteriak. Aku mengangkat pandanganku. Kami sangat mendekati persimpangan, sedangkan sebuah truk besar di sisi kanan melaju dengan kecepatan tinggi. Ibu benar-benar tidak ada waktu untuk mengangkat gas maupun menancap gas lebih kencang. Tanpa seruan klakson, truk itu menghantam keras mobil kami. Suara dentuman memenuhi udara. Kami melayang terbalik tanpa arah. Berputar-putar. Ibu melepaskan sabuk pengamannya kemudian berusaha dengan keras memasang sabuk pengamanku. Kami saling memandangi di momen yang mencekam itu, semuanya terdengar senyap walaupun kami sedang berputar-putar. Dunia seakan-akan berhenti sejenak walaupun kami seperti sedang berada di sirkuit atraksi yang menegangkan. Terlihat darah mengalir dari kepala Ibu. Ibu tersenyum di akhir pandangan kami. Setelah itu, semuanya menjadi sunyi. Aku merasakan rasa logam di mulutku, darah. Pandanganku kabur. Jantungku berdegub sangat kencang hingga sesuatu seperti menyeruak di sekitarku. Dengan pandangan yang mulai gelap, samar-samar aku melihat seorang laki-laki kemudian diikuti dengan seorang perempuan berusaha membuka pintu mobil. "Pecahkan saja." perempuan itu terdengar sangat panik. "Pecahkan dengan apa?" si laki-laki menoleh kesana kemari, kemudian terlihat mengambil sesuatu di jalanan. Dan hanya itu yang dapat kuingat. Ya, kemudian aku tak sadarkan diri dan terbangun di rumah sakit dengan mendapati Ayah dan Clara sedang duduk di sudut kanan ruangan. Mata Ayah sembab. Melihatku yang sudah siuman, Ayah beranjak memelukku dengan tangisannya yang pecah.

Setelah Ibu dan Ayah berpisah, aku tinggal bersama Ibu di Istanbul sedang Paolo bersama Ayah dan Clara di Barcelona. Namun, itu semua hanya sebentar. Kecelakaan mobil yang merenggut nyawa Ibu terjadi tidak lama setelah mereka berpisah, tidak sampai 2 tahun. Seusai kepergian Ibu, aku langsung dibawa Ayah ke Barcelona untuk tinggal bersamanya, Paolo, dan Clara. Clara bukan hanya sebagai istri Ayah, tapi juga ibu sambung bagiku dan Paolo. Dia baik. Dia benar-benar berusaha untuk menjadi seorang ibu bagi kami. Dia suka memasak. Dia kerap mengetuk-ngetuk pintu kamarku untuk membiarkanku mencicipi hasil masakannya. Dia juga mendukung dan merealisasikan keinginanku untuk memiliki kamar di lantai atas dengan balkon. Keinginanku dari dulu, karena akan lebih mudah bagiku untuk memandangi langit dan mengamati pergerakan benda-bendanya. Aku bahkan memiliki kamar kecil di balkonku. Ada sofa yang bisa digunakan untuk tempat tidur dengan bantal-bantal lucu, rak buku kecil dengan meja belajar rendah di sampingnya, meja makan yang bersandar di pagar balkon dengan kursi rotannya, dilengkapi dengan miniatur benda-benda langit dan lampu-lampu menggantung mengelilingi, cahaya lampunya seakan-akan menari di antara tirai jendela yang bermotif etnik. Dihiasi tanaman-tanaman merambat yang menjuntai liar dari pot-pot tanah liat yang berwarna cokelat tua. Tentunya tak lupa dengan teleskopku, tepat di atas meja belajar, terpaut langsung dengan pagar.

Nenekku, Shireen, usianya akan tepat 60 tahun. Walaupun akan menginjak kepala enam, rupa dan fisiknya amatlah awet muda. Dia masih sangat cantik. Mata Ibuku persis sekali dengan matanya, dan mataku pun juga, memiliki lipatan kelopak mata yang unik dengan iris mata berwarna hazel. Mataku memang jiplakan mata Ibu dan Nenek. Namun, keseluruhan wajahku cenderung mirip dengan Ayah, walaupun hidungku jelas hidung orang Turki, menonjol bersama lengkungan yang khas. Tetapi, tulang-tulang wajahku benar-benar tulang wajah orang Spanyol. Dengan rambut hitam pekat lebat bergelombang serta kulit yang kecokelatan, aku dapat mengatakan bahwa aku adalah perpaduan Turki-Spanyol terbaik. Lain halnya dengan Paolo, dia tampak seutuhnya seperti orang Spanyol, benar-benar duplikat Ayah.

Nenekku tinggal bersama Hurrem, adik Ibuku. Sepeninggalan Ibu, bibiku Hurrem sangat ingin aku tinggal bersama mereka, di Istanbul. Tetapi aku lebih memilih tinggal bersama Ayah, di Barcelona. Aku pun juga sudah lama mencintai Barcelona. Barcelona memiliki struktur kota yang indah dan menarik. Dari segi arsitektur, Barcelona memiliki satu distrik dengan tata kota yang sangat cantik, Eixample. Jika dilihat dari udara, bangunan di distrik ini membentuk kotak-kotak yang berjejer rapi. Ildefons Cerda dan Antoni Gaudi adalah arsitek ternama yang mendesain bangunan-bangunannya. Rumahku adalah salah satu daripada bangunan-bangunan tersebut, paling pinggir dekat pantai. Rumah Kaia berbatasan langsung dengan pantai, dari balkon kamar ibu dan ayahnya kita dapat memandangi langsung pantai yang luas. Dari sisi pantai tersebut, matahari terbit. Sedang dari balkon kamarku, kita dapat melihat hijaunya pegunungan dihiasi sinar matahari terakhir setelah terbenamnya. Kaia bilang, "Andai salah satu dari kamar kalian adalah kamarku." 

Aku suka berdiam diri di rumah. Menghabiskan banyak hari-hariku hanya di dalam kamar dengan teleskop, miniatur benda-benda langit yang kubuat, segudang buku, setumpuk kertas, seramai pensil dan pulpen. Bahkan, aku pernah lupa makan ketika sedang membuat miniatur tata surya. Mungkin aku terlalu bersemangat, karena tata surya adalah miniatur kedua yang kubuat setelah bulan. Tetapi aku akan sangat antusias jika temanku mengajakku keluar, apalagi mengajak makan. Kaia, sahabatku, kami tidak memiliki banyak kesamaan, kecuali suka makan. Dia sangat berbanding terbalik denganku, dia sangat ceria sedangkan aku cenderung pendiam. Dia tidak suka membaca, pun tidak suka belajar. Dia tidak kuliah, tapi dia punya bakat yang luar biasa dalam menari. Dia banyak menghabiskan waktunya untuk berlatih belakangan ini, dia ingin mengikuti kontes perekrutan penari. Kaia, dia sebenarnya adalah tetanggaku. Rumahnya tepat berhadapan dengan rumahku. Aku ingat sekali pertama kali bertemu dengannya, dia memberiku cokelat pie buatan ibunya. Dengan wajah yang berbinar-binar, "Ini cokelat pie. Makan, ya. Enak, loh." Dia pun bukan hanya temanku, tetapi juga teman Paolo, karena mereka sering bermain bersama saat kecil, bahkan Paolo lebih banyak menghabiskan waktu bersama Kaia di masa kecilnya hingga beranjak remaja.

"Mau kemana?" tanya Ayah yang sedang duduk di kursi tamu.
 
Aku berjalan mendekati pintu keluar rumah kemudian membungkukkan badan untuk mengikat sepatu, "Rumah Taylor, Yah."

"Oh, baiklah. Hati-hati."

"Iya, Yah. Aku pergi, ya. Sampai jumpa." pamitku sambil melambaikan tangan kepadanya.

Sore ini aku ingin pergi ke rumah Taylor, meminta bantuannya untuk menyelesaikan proyek Kepler 22-b-ku yang hampir selesai. Dia salah satu yang terpintar. Nope, dia yang terpintar. Aku nyaris ingin mengatakan dia salah satu yang terpintar setelahku, hahaha.

Sulit mendapatkan predikat pintar di jurusan Astronomi. Kamu tidak cukup pintar hanya dengan sangat menguasai Astrofisika, atau bahkan sangat menguasai Astrofisika dan Mekanika Benda Langit. Kamu dapat dikategorikan seorang mahasiswa Astronomi yang pintar jika kamu setidaknya menguasai lima cabang ilmu yang berbeda. Taylor menguasai lima cabang ilmu yang berbeda, Astronomi Posisi, Astrofisika dan prosesnya, Mekanika Benda Langit, Statiska dalam Astronomi, dan Elektromagnetik.

Aku sangat menguasai Astronomi Posisi dan Mekanika Benda Langit. Bahkan, aku merasa lebih menguasainya daripada Taylor. Cabang ilmu yang membutuhkan kemampuan obervasi yang mendalam, ketelitian yang kritis, dan memori yang kuat. Tahun ini, aku dapat menemukan rasi bintang orion dalam waktu dua detik di langit yang cerah di Januari. Aku mengetahui betul kapan bulan akan terbit dan tenggelam, beserta posisinya. Aku tak perlu menyimak pergerakan benda-benda langit untuk mengetahui posisi planet-planet di tata surya, bahkan bintang-bintang. Aku dapat menemukan berbagai objek benda langit dengan sangat cepat tanpa bantuan alat pelacak. Aku mengetahui apa-apa objek benda langit yang kulihat, seperti sekarang aku sedang menyusuri jalanan kota Barcelona dengan mendapati Carina Nebula di atasku disertai dengan konjungsi Bulan dan Saturnus. Dan, aku dapat melihat Milky Way walaupun langit sedang berawan, dalam artian, aku sudah sangat menguasai posisi benda-benda langit yang ada di dalamnya dengan rasionya. Maksudnya, bukan berarti aku benar-benar melihatnya dengan mataku, tetapi aku dapat membayangkan dengan kemampuan yang kumiliki sehingga Milky Way seakan-akan dapat dilihat. Menakjubkan, bukan?

Aku tiba di rumah Taylor. Belum sempat mengetuk pintu, Taylor sudah membukanya, "Hei, Mia. Ayo masuk." 

"Bisa-bisanya kamu tau aku sudah tiba." kataku.

"Aku tau persis suara mobilmu." Taylor menaiki anak tangga menuju kamarnya, aku membuntutinya.

"Langit lumayan terang. Carina Nebula bisa dilihat dengan jelas." terangku.

"Olehmu. Kurasa aku butuh teleskop untuk melihatnya." Taylor menyetel teleskopnya.

"Coba lihat saja dulu. Mei ini musim galaksi." aku membuka jendela kamar Taylor, mulai memandangi langit.

Taylor ikut memandangi langit, "Itu Carina Nebula?" tanya Taylor sambil menunjuk tepat di Carina Nebula.

"Ya. Untuk melihat indahnya, baru gunakan teleskop." aku pun meraih teleskop Taylor dan mulai menelusuri Carina Nebula. Indah sekali.

"Sudah sampai mana proyek Kepler 22-b-mu?" tanya Taylor.

"Hampir selesai. Aku butuh bantuanmu dengan kemungkinan massa planet ini, sehingga bisa diperkirakan bagaimana perbandingannya dengan bumi, sesuai dengan miniaturnya" jelasku.

"Kepler 22-b kemungkinan besar memiliki komposisi yang kaya akan volatil dengan lapisan luarnya yang berbatu, atau mungkin gas. Itu sulit, tapi bisa diperkirakan." Taylor mengambil secarik kertas, mulai ingin mengerjakannya. Aku mengamati coretan demi coretan Taylor. "Planet ini seperti mini-Neptunus jika lapisan luarnya benar-benar gas. Tetapi, jika planet ini berbatu, massa-nya akan 10 kali massa Bumi dengan gravitasi 2 sampai 3 kali gravitasi Bumi. Kemudian, dengan 2,4 kali radius Bumi, volume-nya akan menjadi 14 kali volume Bumi."

"Jika lapisan luarnya gas, apa mungkin massa-nya lebih kecil dari massa Bumi? Mengingat ukurannya yang jauh lebih besar dari Bumi." tanyaku.

"Tidak. Walaupun gas, massa-nya akan tetap lebih besar. Sekitar 2 sampai 5 kali massa Bumi." terang Taylor. "Namun, menurutku Kepler 22-b ini kemungkinan besar adalah planet berbatu dengan atmosfer yang tebal." lanjutnya.

"Baiklah. Aku akan membuat miniaturnya berdasarkan permukaan yang berbatu dengan atmosfer yang tebal." kataku.

"Tidak masalah jika kamu ingin membuat miniaturnya berdasarkan permukaan gas, karena semua itu hanyalah hipotesis." Taylor melipat kertas setelah coretannya bahkan tidak sampai memenuhi setengah kertas.

"Aku berada di sisi hipotesismu." aku mengambil kertas tersebut dan menyelipkannya di kantong celanaku.

Comments

Popular Posts