12 Pertanyaan Mengenai Ayat-Ayat Allah
PERTANYAAN
PERKATAAN ALLAH DIDALAM AL-QUR'AN adalah :
1.
Allah yang mengunci hati, pendengaran dan
penglihatan mereka dan memberi azab kepada mereka ( Al Baqarah ayat 7 ).
- Apakah benar Allah yang melakukan itu..??? Sebab
yang mengunci hati, pendengaran dan penglihatan adalah Iblis, bukan Allah.
- Apa maksud dan tujuan Allah melakukan itu kepada manusia..???
2. Allah yang menyuruh bertobat,alu menyuruh bunuh diri,supaya tobatnya diterima Allah ( Al Baqarah ayat 54 dan An Nisa ayat 66 ).
- Apakah maksud dan tujuan Allah menyuruh bertobat lalu bunuh diri..?
- Apakah bunuh diri itu masuk sorga..??
3. Allah yang menipu ( An Nisa ayat 142 ).
- Apakah maksud dan tujuan Allah menipu manusia yang melakukan salat dengan malas.?
- Apakah Allah itu penipu..??
4. Allah yang menimbulkan permusuhan dan kebencian ( Al Ma'idah ayat 14 ).
- Apa maksud dan tujuan Allah menimbulkan permusuhan dan kebencian.??
- Apakah Allah itu senang dengan kegaduhan dan keributan..??
5. Allah mengijinkan mengganti istri dengan istri yang lain ( An Nisa ayat 20 ).
- Apakah Allah itu senang dengan perceraian, sehingga mengijinkan mengganti istri..???
6. Allah memperbolehkan menikahi anak tiri dari istri kita kalau belum digauli ( diceraikan atau mati sebelum digauli ) An Nisa ayat 23.
- Apakah menikahi anak tiri itu suatu panutan atau nilai moral yang baik dan pantas untuk kita tiru..???
7. Allah memperbolehkan memukul istri bila istri tidak nurut pada suami dan tidak mau menerima nasihat dari suami ( keluar rumah tanpa seijin suami ) An Nisa ayat 34.
- Apakah memukul istri itu perbuatan yang baik..??
- Apakah disaat kita memukul istri,maka istri akan dijamin berubah dan langsung nurut sama suami, sehingga Allah memperbolehkan memukul istri..???
8. Allah menyuruh menikahi perempuan yang sudah cukup umur ( An Nisa ayat 6 ).
- Apakah Nabi Muhammad menikahi Aisyah sudah cukup umur, karena menurut hadist Sahih Bukhori, bahwa Aisyah dinikahi pada saat umur 6 thn dan disetubuhi setelah haid yaitu umur 9 thn.
- Pada umur berapakah didalam islam, perempuan dikatakan cukup umur untuk dinikahin.?
9. Allah perintahkan membunuh orang kafir ( An Nisa ayat 89-91 ).
- Apa maksud dan tujuan Allah menyuruh membunuh orang kafir..??
- Kenapa Allah menyuruh umatnya membunuh dan mengotori tangan umatnya,padahal Allah tinggal mencabut nyawa orang kafir tersebut juga bisa..??
- Jika Allah benci dengan orang kafir,kenapa diberi kehidupan,kekayaan dan umur yang panjang kepada mereka..??
- Perlu kita harus ketahui bahwa manusia diberi hak untuk memilih percaya kepada Allah atau tidak.itulah sebabnya Allah menyediakan sorga dan neraka, tetapi Allah menurunkan Firmannya untuk menyelamatkan manusia bagi yang percaya kepada-Nya.sebab Allah menginginkan kita semua manusia selamat dan diangkat kesorga.
10. Allah mewahyukan sebagian berita-berita gaib kepada Nabi Muhammad ( Ali Imran ayat 44 ).
- Seperti apakah berita-berita gaib itu.?
- Apa benar ada sebagian perkataaan Allah itu gaib..?
- Setahu saya perkataan Allah itu semua pasti dan tidak ada yang gaib.
11. Manusia yang masuk neraka tidak mati dan tidak hidup ( Al-A'la ayat 13 )
- Allah tidak konsisten dengan perkataanya, karena jika dineraka nanti tidak mati dan tidak hidup MAKA namanya apa saudaraku..???
- Neraka dalam islam itu seperti apa sih,ko bisa manusia dineraka tidak mati dan tidak hidup..???
12. Al-Tariq ayat 6 manusia diciptakan dari sperma MAKA BERTENTANGAN dengan Al-Alaq ayat 2 manusia diciptakan dari segumpal darah.
- Apakah perbedaan manusia yang diciptakan dari sperma dengan manusia yang diciptakan dari segumpal darah.???
- Apakah kalian akan percaya jika dikatakan manusia diciptakan dari tulang dan daging..???
- Berarti manusia ada dua macam yaitu berasal dari sperma dan berasal dari segumpal darah..??? Perlu kita harus ketahui bahwa awal manusia itu diciptakan dari debu tanah.setelah menjadi manusia maka manusia itu beranak cucu dari pertemuan sel sperma laki-laki dengan sel telur perempuan.
JAWABAN
1. Allah mengunci hati dan pendengaran mereka, mereka yang dimaksud disini ialah orang-orang kafir, ayat sebelumnya yaitu Al Baqarah: 6, “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.”
Karena sesungguhnya hati-hati manusia
berada di genggaman Allah, Allah mengetahui kadar-kadar yang ada di dada-dada
manusia. Tetapi bukan berarti Allah “sengaja” mengunci hati dan pendengarannya.
Allah sudah mengetahui betul kadar-kadar manusia, maksudnya mereka orang kafir
ini memang tidak akan beriman, maka dikunci-lah hati dan pendengaran mereka.
Padahal sudah pernah Allah katakan pula bahwa Allah akan mengeraskan hati
Firaun di Keluaran 7: 3 dan Keluaran 9:12, “Tetapi Tuhan mengeraskan hati
Firaun, seperti yang telah difirmankan Tuhan kepada Musa. ” (9:12), karena
memang sejatinya hati Firaun- itulah yang keras. Keluaran 10: 1, “…. sebab Aku
telah membuat hatinya dan hati para pegawainya berkeras….” Keluaran 10: 27 dan
Keluaran 11:10, “Tetapi Tuhan mengeraskan hati Firaun, sehingga tidak mau
membiarkan mereka pergi.”
2. Perlu diketahui bahwa yang memerintahkan untuk bertobat lalu membunuh diri bukanlah Allah, melainkan seruan Nabi Musa didalam surah Al Baqarah ayat 54 tersebut, tetapi tetap saja perintah Rasul ialah perintah Allah pula (yang sejatinya datang dari Allah), karena memang sejatinya melakukan syirik terhadap Allah adalah suatu dosa yang sangat besar, yang dimana bahkan lebih baik mati daripada melakukan dosa tersebut. Tetapi bukan-kah seruan Nabi Musa itu sudah termaktub pula dalam Keluaran? Bahkan di Keluaran lebih menjelaskan, dikarenakan terhadap surah Al Baqarah ayat 54 ada tiga tafsiran, “membunuh dirimu” ada yang mengartikan orang-orang yang tidak menyembah patung anak sapi membunuh orang yang menyembahnya. Ada pula yang mengartikan orang yang menyembah patung anak sapi itu saling membunuh, dan ada pula yang mengartikan mereka diperintahkan untuk membunuh diri mereka masing-masing untuk bertaubat. Keluaran bahkan lebih spesifik, “Berkatalah ia kepada mereka, ‘Beginilah firman Tuhan, Allah Israel: Baiklah kamu masing-masing mengikatkan pedangnya pada pinggangnya dan berjalanlah kian ke mari melalui perkemahan itu dari gerbang ke gerbang, dan biarlah masing-masing membunuh saudaranya, temannya, dan tetangganya.’” (Keluaran 32: 27)
Mengenai dua pertanyaan pertama di atas, apa pun agama anda jika ingin membahas mengenai ayat-ayat Allah khususnya mengenai syariat terdahulu, maka tidak bisa dipisahkan daripada Al Kitab (Taurat dan Injil). Mohon untuk setidaknya baca Al Kitab dengan pembahasan yang sama. Sudah jelas kami ummat Muslim mengakui kebenaran Taurat dan Injil, yang dimana berasal dari Tuhan yang sama dengan Tuhan yang menurunkan Al Qur’an. Tuhan Nuh, Ibrahim (Abraham), Yakub, Yusuf, Musa, Sulaiman (Solomon), Zakaria, Isa (Yesus), dan Muhammad. Tuhan Bani Israel. Tuhan dua anak Ibrahim (Abraham), Ishak dan Ismael. Tuhan pemilik Al Quds (Jerusalem). Tuhan Jazirah Arab.
3.
Surah An Nisa ayat 142, “Sesungguhnya orang
munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka….” Perlu
diketahui bahwa kami ummat Islam memiliki cabang ilmu Ulumul Qur’an,
mempelajari mengenai tafsir, asbabun nuzul (sebab turunnya ayat), pembuktian
ayat, hingga kaidah-kaidah bahasanya. Ada namanya ayat mutasyabih, artinya ayat
yang samar-samar, dibutuhkan ilmu untuk memahaminya, termasuk ilmu kaidah
bahasa Arab, mengingat Al Qur’an tersusun dari bahasa Arab dengan kaidah
tingkat tinggi dan terindah, atau bahkan ilmu yang dimiliki pun tidak dapat
meraih hakikat daripada artinya, dalam artian hanya Allah-lah yang mengetahui
hakikat daripada kalimat-Nya, tetapi kita tetap diberi ruang untuk menafsirkan.
Salah satu tafsir daripada surah An Nisa ayat 142 tersebut ialah, “Allah-lah
yang menipu mereka mengartikan bahwa Allah membiarkan mereka dalam pengakuan
keimanan, sebab itu mereka diperlakukan selayaknya orang mukmin, sedang Allah
diam-diam telah menyiapkan neraka untuk mereka sebagai balasan terhadap tipuan
mereka.” Maksudnya, Allah seolah-olah membiarkan mereka, mereka dibiarkan
melakukan apa pun yang mereka inginkan, tipuan dll tetapi sejatinya Allah
sedang menyediakan neraka untuk mereka.
4.
Surah Al Maidah ayat 14, “…. maka Kami timbulkan
permusuhan dan kebencian diantara mereka hingga hari kiamat…” sejatinya setiap hati berada di genggaman
Allah. Allah mengetahui setiap perasaan, kadar-kadar di dada-dada manusia, dan
segala sesuatu yang terjadi ialah atas izin Allah, hingga gugurnya daun yang
telah layu pun terjadi atas izin-Nya, itu adalah sebagian dari akidah kami
ummat Muslim. Maksudnya sama seperti Allah mengunci hati dan pendengaran,
mengeraskan hati Firaun (seperti yang termaktub di Keluaran), maka menimbulkan
permusuhan dan kebencian ialah Allah, karena Allah-lah mengatur segala apa yang
ada di langit dan apa yang ada di bumi, dengan ilmu dan keadilan-Nya tentunya.
Sungguh, ilmu kita untuk mencapai hakikat perbuatan Allah terhadap hamba-Nya
yang sebenar-benarnya sangatlah terbatas.
5. 6. 7. An Nisa ayat 20, “Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil sedikit pun darinya….” An Nisa ayat 23, “Diharamkan atas kamu anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu (menikahinya)….” An Nisa ayat 34, “Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuz (meninggalkan kewajibannya sebagai istri), hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya….”
Saya sebagai seorang perempuan menilai tidak ada salahnya dengan ketiga ayat di atas. Ketiga ayat di atas menjelaskan syariat, bukanlah sebuah perintah. An Nisa 20, “dan jika….” An Nisa 23, “tetapi jika….” Dan untuk An Nisa 34, jangan buta dengan “hendaklah kamu beri nasihat, tinggalkan mereka, baru ‘kalau perlu’ pukullah”, dilanjutkan pula "tetapi jika mereka taat maka tidak halal bagimu untuk menyusahkannya.” Jika memukul istri adalah suatu hal yang selalu patut, tentu Rasulullah adalah orang pertama yang akan memukul, namun apakah Rasulullah pernah memukul istrinya? Sedang Rasulullah bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada perempuanmu (istri).” (HR. At Tirmidzi, Ibnu Hibban – shahih)
Al Qur’an bukan hanya sebagai petunjuk kebenaran, tetapi juga sebagai pedoman dan aturan. Segala sesuatu diatur dalam Islam, baik itu sumber hukumnya dari Al Qur’an, hadits, atau ijtihad para ulama, bahkan hal sensitif sekali pun, seperti diperbolehkan memukul istri tetapi ‘jika’ nasihat dan tindakan pisah ranjang tidak dapat menegur mereka. Kemudian mengenai “jika kamu ingin mengganti istri….” yaitu mengartikan perceraian itu diperbolehkan, dikarenakan banyak kondisi pernikahan yang memang tidak dapat lagi dipertahankan dan memang lebih baik jika bercerai, itulah hukum Islam menilai berdasarkan kemashlahatan ummat, itulah ada syariat ruju’ pula. Kalimat selanjutnya pun mengenai “maka janganlah kamu mengambil sedikit pun darinya (harta yang telah kamu berikan kepada istri yang hendak kamu ganti itu)….”, ayat tersebut bermaksud menjelaskan bagaimana keadaan harta bagi istri yang hendak diceraikan. Memang perceraian dibolehkan, tetapi termasuk perkara yang dibenci Allah. “Perkara halal yang dibenci Allah adalah talak.” (sebagian ulama menshahihkan hadits ini).
Kemudian mengenai ayat yang menjelaskan kebolehan menikahi anak tiri dari istri yang sudah diceraikan, tak ada masalah untuk itu. Bahkan itu justru memperjelas mana-mana perempuan yang halal untuk dinikahi dan mana-mana yang haram, bukanlah sebuah perintah. Bukanlah sebuah panutan yang harus kita tiru. Al Qur’an menjelaskan barangkali jika akan ada kasus demikian. Seperti saudara sepersusuan haram untuk dinikahi, jika kita pikir.... mengapa? Maha Suci Allah dengan Kebenaran Firman-Nya, dibuktikan dengan air susu ibu yang dikonsumsi bayi memengaruhi biologisnya (berdasarkan suatu penelitian memang adanya unsur gen dalam ASI, sedang di masa meng-ASI-hi masih dalam masa perkembangan tulang dan pertumbuhan daging), jika menikah akan beresiko melahirkan anak yang cacat. Jadi intinya, Islam itu mengatur. Jangan heran hal-hal sensitif pun disinggung. Bahkan jika anda mempelajari hadits, posisi tidur, cara masuk kamar mandi, cara membersihkan daerah pribadi, sikap terhadap makanan, sikap setelah bangun tidur, posisi tubuh ketika minum, hingga cara meneguk air pun ada contohnya dari Rasulullah, yang dimana kami menilainya sebagai sunnah.
8. Betul. Allah memerintahkan menikahi perempuan yang sudah cukup umur. Adakah masalah dengan itu? Ya benar, berdasarkan hadits shahih Ummul Mukminin Aisyah dinikahi Nabi saat ia berumur 6 tahun dan tinggal bersama Nabi saat ia berumur 9 tahun. Hal tersebut selalu dijadikan senjata bagi mereka yang mempertanyakan Islam. Padahal pada zaman Nabi kita tahu betul Nabi disebut-sebut sebagai ‘orang gila’ ‘penyair’ hingga ‘penyihir’ hanya karena beliau menyampaikan firman Allah, padahal sebelumnya Nabi dijuluki sebagai ‘yang jujur’ dan ‘yang amanah’. Tetapi jika kita berpikir…. Adakah dari mereka itu yang menyebut Nabi seorang ‘pedofil’ atau apa pun itu yang menyinggung pernikahan Nabi dengan Aisyah? Ya, tidak ada. Itu sudah cukup menunjukkan kepada kita yang hidup lebih dari 1400 tahun lamanya setelah zaman Nabi bahwa pernikahan Nabi dengan Aisyah bukanlah suatu hal yang tak patut. Dan perlu anda ketahui mengenai pernikahan tersebut, sejatinya ialah petunjuk dari Allah melalui mimpi baginda Nabi. Jika bertanya-tanya mengapa Allah menunjuk Nabi-Nya untuk menikahi Aisyah? Sudah terjawab! Aisyah adalah sosok yang ‘sengaja’ Allah siapkan. Ia sangatlah cerdas, terbukti ia hafal keseluruhan daripada Al Qur’an dan ia adalah yang paling banyak meriwayatkan hadits; sumber hukum Islam, sumber ilmu bagi ummat Muslim. Ia adalah perempuan yang paling banyak ilmunya. Ummul Mukminin Aisyah pun ikut berkontribusi menjadi perawat perang, penjelas sabda Nabi, hingga guru! Sungguh, Aisyah adalah karunia terbesar yang Allah berikan untuk Islam.
Kemudian yang harus anda ketahui pula, sungguh, Nabi Muhammad didefinisikan oleh para sahabat sebagai sosok yang memiliki kesempurnaan fisik dan akhlak. Dalam sebuah hadits seorang sahabat bernama Jabir mengungkapkan, “Di malam hari aku bersama Rasulullah (Nabi Muhammad), aku sedang memandangi bulan yang saat itu sedang terang purnama, kemudian aku palingkan pandanganku kepada Rasulullah, ternyata ia lebih indah daripada bulan purnama.” Seakan-akan wajah Rasulullah lebih bercahaya daripada bulan purnama! Anda bisa baca literatur-literatur Islam mengenai ciri fisik Nabi Muhammad. Ia tak pernah tertawa terbahak-bahak, ketawanya hanya menyengirkan gigi yang dimana cahaya pun keluar dari giginya. Dadanya bidang. Bahunya lebar. Tulang-tulangnya panjang dan besar. Perutnya seperti tersusun dari batu-batu (sixpack). Sudut matanya lebar. Matanya tajam. Ketika ia melangkah seakan-akan bumi digulungkan untuknya. Tangannya lebih halus daripada sutera. Keringatnya lebih harum dari kasturi.
Bara bin Azib berkata, “Aku belum pernah melihat orang yang lebih tampan dari beliau.” Anas, “Beliau adalah orang yang paling dermawan, paling tampan, dan paling pemberani.” Ali bin Abi Thalib, “Jika berjalan, beliau berjalan dengan tegak layaknya orang yang sedang menapaki jalan yang menurun. Aku belum pernah melihat orang seperti beliau sebelum atau setelahnya.” Abu Ishaq berkata, “Ada seorang laki-laki bertanya kepada Bara bin Azib, ‘Apakah wajah Rasulullah seperti pedang?’ Ia menjawab, ‘Tidak, tetapi seperti bulan.’” Abu Hurairah, “Rasulullah berkulit putih bagaikan disepuh oleh perak, rambutnya bergelombang/ikal (terurai).” Aisyah, “Akhlaknya adalah Al Qur’an. Beliau mempunyai rambut yang sampai pundak dan (juga) hingga cuping telinga.” Bahkan orang-orang yang memusuhi Nabi pun mengakui kesempurnaan dan ketampanan fisiknya.
Kita tidak tahu persis bagaimana kondisi
fisik Ummul Mukminin Aisyah ketika ia berumur 9 tahun saat mulai serumah dengan
Nabi. Tetapi lihatlah fenomena sekarang. Tak sedikit para remaja-remaja wanita
mengidolakan para aktor pria dari kalangan yang ‘sudah berumur’, tentunya
dikarenakan ketampanan mereka. Lantas bagaimana dengan Nabi Muhammad yang
fisiknya sangatlah sempurna? Belum lagi pernyataan-pernyataan daripada Ummul
Mukminin Aisyah sendiri yang terang-terangan sangat mencintai baginda Nabi.
9. Pelu diketahui bahwa setiap ayat-ayat Al Qur’an memiliki asbabun nuzul (sebab turunnya). Untuk ayat 89-91 daripada surah An Nisa ialah perintah Allah kepada kaum Muslimin terhadap kaum Musyrikin di Madinah. Di ayat 90, “…. kecuali orang yang datang kepadamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu atau memerangi kaumnya….” – maksudnya mereka kaum musyrik itu. Dilanjutkan pula, “Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangimu serta menawarkan perdamaian kepadamu, maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.” Saya rasa cukup jelas di ayat 90 ini bahwa Allah tidak sembarangan memerintahkan kaum Muslimin untuk membunuh kaum Musyrikin/Kafirin.
“Janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya), kecuali dengan suatu (alasan) yang benar. Siapa yang dibunuh secara teraniaya, sungguh Kami telah memberi kekuasaan kepada walinya (untuk menuntut qisas, maksudnya hukuman mati; nyawa dibalas dengan nyawa ketika pembunuhan yang dilakukan dengan alasan yang tidak benar)….” (Al Isra’ ayat 33)
“Oleh karena itu, Kami menetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil bahwa siapa yang membunuh seseorang bukan karena (orang yang dibunuh itu) telah membunuh orang lain atau karena telah berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia….” (Al Maidah ayat 32) Jadi jelas. Upaya membunuh itu haruslah dengan alasan yang jelas. Kembali lagi, Islam mengatur semua hal, bahkan hal yang sangat sensitif sekali pun.
“Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya….” (Al Baqarah ayat 218). Nabi pun melakukan perang ketika telah diizinkan. Dan dalam perang pun ada aturannya yang mana tak ada satu pun aturan perang yang lebih memikirkan mashlahat manusia selain aturan perang dalam Islam; dilarang membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua yang telah lanjut usia, dilarang merusak pohon, rumah ibadah apa pun (termasuk gereja-gereja), sumber mata air, bersikap tolerir dan baik terhadap petinggi-petinggi musuh dengan harapan bisa melakukan negosiasi, tawanan perang dapat ditebus sehingga tetap menempatkan musuh di posisi seseorang yang berharga.
Mengapa tidak Allah cabut nyawa orang-orang kafir tersebut? Bukankah Allah sudah pernah melakukannya? Bencana banjir besar Nabi Nuh. Azab terhadap kaum Tsamud berupa gempa bumi yang dahsyat disertai dengan batu-batu besar. Menenggelamkan Firaun bersama bala tentaranya. Hujan batu yang amat keras menimpa kaum sodom di era Nabi Lut.
Sedang di era Nabi Muhammad, Al Qur an lah peringatannya. “Dan mereka meminta kepadamu agar segera diturunkan azab. Kalau bukan karena waktunya yang telah ditetapkan, niscaya datang azab kepada mereka, dan (azab itu) pasti akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya.” (Al Ankabut ayat 53)
“Mereka meminta kepadamu agar segera diturunkan azab. Dan sesungguhnya neraka Jannaham itu pasti meliputi orang-orang kafir, pada hari (ketika) azab menutup mereka dari atas dan dari bawah kaki mereka dan (Allah) berkata (kepada mereka), “Rasakanlah (balasan dari) apa yang telah kamu kerjakan!” (Al Ankabut ayat 54-55)
Terkait rezeki, “Allah melapangkan rezeki bagi orang yang Dia kehendaki diantara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang membatasi baginya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Ankabut ayat 62). Bukan hanya dari kalangan orang kafir, dari kalangan orang beriman pun. Maksudnya, ada kalanya orang kafir maupun beriman diberi rezeki lebih dan ada kalanya orang kafir maupun beriman dibatasi rezekinya. Ada kalanya mereka disehatkan, ada kalanya mereka diberi penyakit. Namun, bagi akidah kami ummat Muslim, hakikat hidup yang sebenarnya adalah di akhirat, kekal dan abadi, sehingga tak sedikit mereka yang kokoh akidahnya tetap bahagia walaupun dibatasi rezekinya.
Mau beriman atau tidak, terserah dirimu.
Yang jelas, Allah sudah memperingatkan, bukan hanya memperingatkan akan adanya
neraka, tapi juga mengabarkan kabar gembira berupa surga bagi orang-orang beriman yang luasnya seluas langit dan bumi. Allah sudah banyak
mengutus utusan-Nya untuk memberikan kabar-kabar itu. Jadi, sudah jelas pula
bahwa Allah tidak mendzalimi siapa pun dari kalangan manusia.
10. Ayat sebelumnya daripada Ali Imran ayat 44 menceritakan mengenai kisah Maryam, satu daripada empat wanita penghulu surga, ibunda daripada Nabi Isa. Nampak anda disini tidak mengetahui betul hakikat daripada definisi “gaib”. Gaib itu ialah sesuatu yang tidak dapat dilihat, dirasa, atau diketahui. Sungguh tak ada yang salah firman Allah di Ali Imran ayat 44 ini, karena Dia menceritakan mengenai kisah Maryam kepada Nabi Muhammad, yang hidup jauh sebelum Nabi. Di sini bukan “perkataan Allah”-nya yang gaib, tapi isi daripada perkataannya, yaitu “berita-berita” yang tak dapat dilihat, dirasa, bahkan benar-benar tak diketahui awalnya oleh Nabi Muhammad.
Sebenarnya banyak sekali berita-berita gaib yang Allah sampaikan, seperti kisah Nabi Yusuf yang Allah ceritakan kepada Nabi Muhammad, sedang Nabi tidak bersama atau melihat langsung apa yang terjadi dengan Nabi Yusuf, dan detail kisahnya pun belum pernah diceritakan di Al Kitab. Bahkan ada pula berita-berita gaib yang Allah sampaikan kepada Nabi mengenai peristiwa-peristiwa yang akan datang, seperti salah satunya kemenangan bangsa Romawi setelah dikalahkan bangsa Persia, termaktub dalam Ar Rum ayat 2-3, “Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat (Suriah dan Palestina) dan mereka setelah kekalahannya akan menang dalam beberapa tahun lagi (dan Maha Benar Firman-Nya kemudian bangsa Romawi benar-benar menang). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.” Kemenangan bangsa Romawi itu antara tiga sampai sembilan tahun. Waktu antara kekalahan bangsa Romawi (tahun 614-615 M) dengan kemenangannya (tahun 622 M) ialah kira-kira/kurang lebih 7 tahun.
Bahkan, banyak pula berita-berita gaib yang
dikabarkan oleh Nabi Muhammad (yang benar-benar perkataan beliau), seperti
beliau memberitakan kematian Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi Thalib kepada
para sahabatnya sebelum kematian mereka sampai ke Madinah.
11. Mengenai kondisi manusia di neraka, biarlah kita saksikan nanti. Tetapi, semoga kita bukan termasuk diantara penghuninya.
12.
At Tariq ayat 6, “Dia (manusia) diciptakan dari
air mani yang terpancar.” Al Alaq ayat 2, “Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah.”
“Dari”. Dua bagian proses dari penciptaan
manusia.
Pertama, dari air mani. Benar.
Kedua, dari segumpal darah. Benar.
Proses asalnya dari air mani. Proses
terbentuknya dari segumpal darah. Begini, setelah terpancarnya air mani, apa
yang terjadi? Air mani ialah asalnya. Kemudian setelah terjadi pembuahan
(setelah terpancarnya air mani tersebut), baru dimulai proses pembentukannya
bukan? Yap. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya, siapa yang dapat
mengetahui wujud awal daripada pembentukan manusia setelah terjadi pembuahan
1400 tahun yang lalu jika bukan orang yang tentu saja bukan sembarang orang!
Yap, berupa seperti lintah atau segumpal darah, yang muncul di masa pra-embrio,
atau bisa dikatakan segumpal darah itu ialah embrio itu sendiri yang belum terbentuk dengan sempurna (istilah biologinya blastokista), dan setelah itu barulah terbentuk janin yang sempurna,
gumpalan daging dan tulang-tulang.
Maha Suci Allah yang telah menolong hamba-Nya hingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Sejatinya, jawaban-jawaban yang diberikan masih jauh dari hakikat yang sebenar-benarnya. Semoga Allah berikan petunjuk-petunjuk-Nya
dan kemudahan untuk beriman kepada yang haq (benar), untuk diri saya dan kamu.
Terima kasih.
Comments
Post a Comment