Déjà vu Mia #4

“Hei, cepat dan katakan mau makan apa!” teriak Paolo.

Aku menjauhkan handphone-ku dari telinga, “Hei, jangan teriak-teriak!"

"Kamu bahkan berteriak melebihiku, bodoh. Cepatlah, aku sudah sangat lapar.”

Aku mempercepat langkahku. Melewati koridor kampus dengan perasaan kesal karena Paolo benar-benar tidak berubah. Dia selalu meneriakiku ketika menjemputku. Apa salahnya sedikit bersabar? Padahal, dia sudah sangat jarang menjemputku karena selalu sibuk dengan kegiatan-kegiatannya. Huh. Hari ini aku meminta Paolo untuk menjemputku, karena aku sama sekali tidak sempat mengendarai mobil ke kampus, aku kehilangan kunci mobilku.... aku hanya lupa dimana aku meletakkannya. 

“Nah, begitu. Lari.” Paolo tertawa kecil.

Aku cemberut, membuka pintu mobil dan masuk, “Sungguh, aku sangat bahagia seminggu ini.” karena Paolo sama sekali tidak pulang ke rumah selama seminggu belakangan ini.

“Aku menganggapnya sebagai pernyataan rindu.” Paolo menghidupkan mobil dan mulai mengendarainya. “Tenang saja. Malam ini aku pergi, kok.” lanjutnya.

“Syukurlah.” ejekku. Seminggu tidak bertemu dengan Paolo rasanya biasa saja, bahkan sedikit merasa bebas, karena dia selalu mengacak-acak kamarku. Sebenarnya dia tidak bertujuan mengacak-acak kamarku dengan sengaja, hanya saja dia memang orang yang acak-acakan. Balkonku menjadi salah satu tempat favoritnya di rumah. Aku jadi sangat jengkel jika dia berlama-lama berdiam diri di sana. Namun walaupun begitu, aku pernah sangat merindukan Paolo ketika satu tahun lebih tidak bertemu. Aku di Istanbul bersama Ibu sedang dia di Barcelona bersama Ayah. Aku ingat sekali di akhir satu tahun lebih itu aku menangis setiap malam. 

Paolo memperpelan laju mobil dan memarkirkannya di depan Hensana Restaurant. Tempat makan favorit kami. “Jangan tanya aku mau makan apa kalau akhirnya makan di sini!” seruku.

“Maaf, Yang Mulia.” Paolo membuka pintu mobil dari sisiku kemudian membungkukkan badannya sembari mengarahkan tangannya ke pintu masuk Hensana Restaurant, memberi isyarat agar aku segara memasukinya. Perasaanku mulai membaik setelahnya. Hihi.

Kami segera duduk di tempat favorit yang untungnya belum ditempati orang lain.

“Mau pesan apa?” tanya Paolo.

“Nachos dan Apple Pie. Jus Alpukat untuk minumannya.” jawabku tanpa melihat menu terlebih dahulu. Itu pesanan andalanku.

“Aku Buffalo Chicken Wings, Hotdog, dan Hot Chocolate.” Paolo menulisnya di secarik kertas pesanan. “Dan Air Mineral untuk kita.” lanjutnya kemudian memberikan secarik kertas itu kepada pelayan restoran.

“Oh iya, ada teman Wilona yang sangat mengidolakanmu. Seandainya dia tahu dirimu yang sebenarnya, tentu saja dia akan menyesal.” aku mengingat Enid, teman Wilona, “Mia, aku mengikuti kakakmu Instagram. Foto-fotonya benar-benar keren!” dengan pipi yang memerah.

Saat itu, aku mengerucutkan dahiku sembari membayangkan betapa joroknya Paolo minggu sebelumnya mengambil sepotong roti tanpa mencuci tangan setelah mengupil.

“Kamu pasti sudah sangat bosan melihat betapa keren kakakmu, ya? Ah, apakah dia sudah punya pacar?” terbayang olehku pipi tomat Enid.

“Benarkah? Siapa?” Paolo tampak penasaran. 

“Dia bilang foto-fotomu keren.” aku mencoba untuk membuat Paolo semakin penasaran.

Paolo memalingkan wajah ke handphone-nya. Mencari sesuatu di sana kemudian menunjukkan sebuah foto padaku. Foto dirinya saat berada di atas skate-board, terlihat diambil saat dia berjalan dengan skate-boardnya. "Keren, kan?"

Sedikit keren. Hah tapi..... aku sudah pernah melihatnya.

"Aku sudah pernah melihatnya." kataku.

"Melihat apa?" Paolo mengambil kembali handphone-nya setelah dia sodorkan padaku.

"Melihat fotomu. Itu." aku menunjuk handphone-nya.

"Aku baru mengambilnya sore kemarin. Bagaimana bisa kamu sudah melihatnya?" Paolo menatap layar handphone-nya sembari menggeser-geser foto dalam galeri.

Aku benar-benar sudah melihatnya. Tetapi entah dimana. Hoodie tosca-nya. Celana cokelatnya yang di atas lutut. Topi bertuliskan "1989, New York". Hingga gayanya di atas skate-board itu. Benar-benar sudah kulihat. "Benar-benar sudah kulihat."

"Bagaimana bisa sudah kamu lihat kalau ini baru diambil sore kemarin? Ada-ada saja. Mungkin kamu melihat fotoku yang lain, mirip dengan yang ini."

"Ah, dejavu." aku membenarkan posisi dudukku melihat pelayan restoran membawa pesanan kami, hendak diantar ke meja. Siap menyantapnya dengan lahap.

Comments

Popular Posts