Déjà vu Mia #3
Aku terbangun dari tidurku. Hari ini sangat dingin
sampai-sampai aku merasakannya hingga ke tulangku. 2° C. Malam hari belum
sedingin ini, itulah mengapa aku tidak menggunakan selimut tebalku. Jelas cuaca
dingin ini berasal dari angin dan aku rasa cuaca akan tetap sedingin ini walau
matahari sudah terbit. Akan sedikit lebih hangat setelah matahari naik setinggi
tombak dan bertambah lebih hangat lagi ketika matahari sudah di atas kepala,
sedang angin akan tetap terasa dingin. Aku membuka tirai jendela, memandangi
langit dengan sekejap, matahari akan terbit lebih kurang 15 menit lagi. Aku
memperkirakannya hanya dengan melihat Venus yang terang dan berkas cahaya
matahari yang sedang tenggelam di belahan bumi lain. Tetapi untuk sekarang,
alih-alih butuh selimut, aku lebih membutuhkan coat, karena aku harus segera ke
kampus, ada kelas Kosmologi. Walau cuaca hari ini benar-benar nikmat untuk
diisi dengan tidur sepanjang hari, jangan kira aku akan bolos kelas dan lebih
memilih tidur. Tidak. Tidak akan kulakukan. Seperti yang kalian ketahui, aku
suka belajar dan kurang tidur. Yap, aku lebih suka belajar daripada tidur.
Suhu sedingin ini membuat aku jadi malas mandi. Bisa saja
kuhangatkan air, tapi aku tidak ingin menunggu lama. Jadi, aku memutuskan untuk
tidak mandi hari ini. Hanya cuci tangan, cuci kaki, dan cuci muka. Kemudian
mulai berpakaian, memakai celana panjang tebalku dan sweater dengan coat
setelahnya. Sedikit menggunakan lipbalm agar bibir tidak kering. Lalu meraih
syal cokelat muda-ku dan melingkarkannya di leher.
Aku beranjak dari kamarku, menuruni anak tangga, dan
mendapati Clara sedang menyiapkan sarapan. "Selamat pagi, Clara." aku
menghampirinya. "Ada yang bisa kubantu?"
"Tidak ada, sayang. Aku hanya menginginkanmu
sarapan." Clara menuangkan banana smoothie yang sudah selesai diputar ke
dalam gelas dan memberikannya padaku.
Aku mencicipinya dengan satu seruputan. Mendapati rasanya
yang enak, aku mulai meminumnya tegukan demi tegukan. Aku meraih pula churros
di meja makan, mencocolnya dengan saus cokelat hangat.
"Aku berangkat, Clara. Sampai jumpa!" pamitku
dengan mulut yang masih mengunyah churros renyah buatan Clara.
"Ya, hati-hati." Clara melempar senyuman.
Sesampainya di kampus, aku segera memasuki ruang kelas
Kosmologi. Mendapati Taylor dan beberapa teman lain sudah sibuk dengan setumpuk
bukunya. Aku mengambil tempat tepat di sebelahnya. Tepat setelah aku duduk di
tempatku, Professor Adriel Balfe Reedeman tiba. Perjalanan dari rumahku ke
Universitas Barcelona lebih kurang 20 menit, memakan waktu yang lumayan tidak
sedikit. Tidak jarang aku nyaris terlambat seperti ini. Tapi, aku sudah
menyiapkan diri untuk menghadapi pelajaran dengan membaca beberapa buku di
malam hari dan mendengarkan audio yang relevan ketika di perjalanan.
"Senang melihat kalian sangat antusias dengan pelajaran
saya pagi ini." Professor Adriel meletakkan beberapa buku dan sebuah
laptop yang ia bawa ke meja. "Apa nebula terakhir yang kalian amati
belakangan ini?"" ia membuka laptopnya.
"NGC 6302, Prof." sahut Adriana.
"Nebula tercantik." Professor Adriel mulai menayangkan objek-objek langit yang indah kemudian berhenti di NGC 6302, dikenal dengan Nebula Kupu-Kupu. "Seperti inilah kira-kira bentuk matahari kita ketika runtuhnya setelah memakan planet-planet di tata surya." Professor Adriel mengalihkan gambar NGC 6302 ke Messier 16, Nebula Elang. "Nebula-nebula ini memiliki dua eksistensi yang berbeda. Mereka bisa menjadi akhir dari kehidupan sekaligus awal dari kehidupan. Terbentuk dari ledakan supernova dan runtuhnya bintang-bintang. Mengandung debu, hidrogen, helium, karbon, juga plasma. Kemudian nebula perlahan-lahan menjadi padat sampai-sampai gravitasinya sendiri menarik materi-materinya hingga terkompresi, memanas, memadat, dan akhirnya membentuk bintang muda yang baru. Atau planet."
"Jika bintang dan planet sama-sama terbentuk dari
nebula, apa yang menyebabkan suatu planet atau suatu bintang mengelilingi
bintang yang lain?" Adriana tiba-tiba bertanya.
"Tentu proses pembentukan dan kadar kandungan nebula
satu dengan nebula lain berbeda-beda, sehingga ada nebula yang membentuk suatu
bintang yang lebih kuat gravitasinya daripada bintang yang lain. Bintang yang
paling kuat gravitasinya ini menarik bintang-bintang lain sehingga berevolusi
mengelilinginya."
"Lalu, bagaimana dengan orbit bintang-bintang yang
mengelilingi bisa sebegitu stabilnya?" Taylor ikut bertanya.
"Sebegitu stabilnya? Jika dilihat berdasarkan skala
waktu yang panjang, iya. Memang secara umum, orbit bintang-bintang ataupun
planet-planet yang mengelilingi suatu bintang yang lebih besar gravitasinya
relatif stabil dalam skala waktu yang panjang. Namun, ada faktor-faktor yang
dapat memengaruhi stabilitas orbit, seperti gangguan gravitasi dari objek
langit lain, efek mare, hingga pergeseran kutub. Jadi, orbit bisa saja
mengalami perubahan."
"Tetap saja bintang-bintang atau planet-planet yang
mengelilingi itu memiliki keteraturan seolah-olah mengerti apa yang harus
dilakukan, mempertimbangkan kestabilan orbitnya yang dominan. Hanya mengalami
perubahan yang sedikit dan perubahannya pun terjadi dalam kurun waktu yang
sangat lama." komentar Taylor. Taylor memang sedikit kritis. Untungnya,
Prof. Adriel sangat menyukai orang-orang yang kritis.
"Pernyataan yang bagus. Bahkan untuk mengorbit pun,
benda-benda langit harus memiliki momentum sudut yang menentukan laju dan arah
putarannya. Itulah mengapa mereka berotasi. Dengan berotasi, mereka miliki
itu." terang Professor Adriel. "Menarik, bukan? Seakan-akan mereka
mengerti apa yang harus dilakukan." lanjutnya.
"Menarik, Prof. Itulah yang dilakukan planet-planet
tata surya kita dalam upaya mengelilingi matahari." Diego menyeletuk.
"Menurutmu, planet-planet di tata surya ini
mengelilingi matahari, Diego?" Professor Adriel menunggingkan senyuman
sembari mengangkat kedua alisnya. Diego terdiam. Dia tampak kebingungan.
Kualihkan pandanganku kepada yang lain, yang lain pun tampak kebingungan.
"Jangan bingung. Saya hanya bertanya." Professor
Adriel masih menunggingkan senyumannya. "Baik, kita sudah mendapati dua
nebula, NGC 6302 dan Messier 16. Sekarang, mengenai posisinya." Professor
Adriel kembali ke layar laptop. Tak lama kemudian, dia mengangkat pandangannya,
menyapu seisi kelas, lalu berhenti ketika mendapatiku. "Mia, bagaimana
dengan posisi NGC 6302?"
Aku sedikit terkejut. Semua orang mengetahui bahwa aku yang
paling pandai dalam Astronomi Posisi, bahkan Professor Adriel sekalipun.
"Terletak di arah rasi bintang Skorpius, Prof. Dengan
deklinasi 37° 06′." jawabku.
Prof. Adriel terlihat mencari-cari sesuatu di laptopnya,
"37° 06′ 15.94″" lirihnya. Benar, aku ingin melanjutkan
dengan "15"", tetapi aku tidak begitu yakin tadi.
"Bagaimana dengan Messier 16?" Professor Adriel berdiri dari
duduknya.
"Di rasi bintang Serpens, Prof. Dengan
deklinasi 13° 49′ 17.64″, berjarak 6.500 cahaya. Bintang
yang paling terang di Messier 16 memiliki magnitudo tampak +8.24 yang
dapat dilihat dengan teropong biasa." terangku.
"Tepat sekali, Mia. Bagaimana dengan rasi bintang
Serpens? Saya rasa banyak yang belum mengamati atau bahkan mengetahuinya."
tanya Professer Adriel lagi.
"Rasi bintang Serpens berbatasan dengan Corona
Borealis, Boötes, dan Virgo. Bisa dilihat dengan jelas di langit malam
Barcelona di pertengahan Agustus. Untuk melihat Messier 16 di dalamnya, harus
menggunakan teleskop katadioprik."
"Bagus sekali, Mia. Saya sempat mengamati Serpens dan
Messier 16 tahun kemarin, tepat di pertengahan Agustus. Saya harap bisa
mengamatinya lagi tahun ini." Professor Adriel duduk kembali, menutup
laptopnya, kemudian menyusun buku-bukunya.
"Baik, saya rasa cukup di sini pembelajaran kita hari
ini. Saya ingin kalian memotret nebula apa saja yang bisa didapati di langit
malam Barcelona bulan ini. Dan Mia, saya rasa kamu tak perlu menunggu malam
untuk mendapatinya." ujar Professor Adriel.
"Saya perlu Teleskop James Webb untuk melihatnya di
siang hari, Prof." candaku. Professor Adriel tertawa. Teleskop James Webb
adalah teleskop termahal di dunia setelah Hubble. Aku benar-benar berharap
suatu hari nanti bisa menggunakannya.
Comments
Post a Comment