Déjà vu Mia #5
Aku melirik jam dinding kelas, menunjukkan pukul 9 pagi. Seharusnya Professor Chloe Moretz sudah memulai mata kuliah Astrofisika satu jam yang lalu. Kualihkan pandanganku ke kiri dan ke kanan, mengamati teman-temanku sudah dari tadi tenggelam dalam buku dan proyek-proyek mereka. Aku sudah mulai bosan setelah menghitung berulang-ulang luminositas bintang Rigel dan Spica menggunakan hukum Stefan-Boltzmann. Mungkin aku harus menghitung luminositas bintang yang lain.
"Sedang apa?" Lucy yang duduk tepat di depanku membalikkan badannya.
Aku menunjukkan catatanku, "Menurutmu bintang apa lagi, ya?"
"Menurutku kamu harus lihat ini." Lucy menyodorkan laptopnya, menunjukkan diagram tata surya, lengkap dengan orbit-orbit planet dengan desain yang unik dan menarik. "Aku sedang membuat website. Bagus tidak?" tanya Lucy sembari memperbesar objek Bumi.
"Bagus. Desainnya unik." aku mengamati lebih lama. "Ini apa? ISS?" aku menunjuk ke sebuah objek yang terlihat sangat modern.
"Yap, betul. Lihat nih." Lucy memperbesar objek tersebut hingga ISS benar-benar dapat dilihat dari sisi mana saja. Terdapat sebuah pesawat luar angkasa sedang melakukan manuver di sisi tengah atas ISS, terlihat sedikit bergerak-gerak. Bukan hanya ISS-nya saja yang memiliki desain yang modern, bahkan pesawat luar angkasa-nya pun juga.
"Kamu yang mendesain semua ini?" tanyaku dengan takjub.
"Iya. Bagaimana?" antusias Lucy dengan bangganya. Dia patut berbangga diri, dia benar-benar memiliki imajinasi yang keren.
"Keren sekali!" takjubku lagi.
"Apakah kamu akan lebih takjub dengan ini?" kali ini Lucy memperbesar pesawat luar angkasa-nya. Benar-benar dibuat dalam bentuk tiga dimensi. Kita bisa melihat sisi mana saja di dalam pesawat luar angkasa tersebut hanya dengan menggesernya. Lucy mengakses satu per satu ruangan di dalam pesawat. "Pesawat ini memiliki propulsi nuklir sehingga pergerakkannya akan menjadi 10 kali lebih cepat." Lucy menunjukkan sebuah ruangan yang dipenuhi nuklir kemudian beralih ke sebuah ruangan dengan langit-langit transparan dan panel kontrol holografik yang melayang di udara, "Dengan kecerdasan buatan yang dapat digunakan langsung pada panel ini. Selanjutnya diharapkan dapat mengambil keputusan secara mandiri."
"Aku tidak bisa berkata-kata, Lucy. Sungguh." lagi-lagi aku takjub. "Sudah berapa lama kamu membuat website ini?"
"Hampir satu tahun. Benar-benar menguras waktuku. Dalam satu tahun ini, aku hanya menyelesaikan desain tata surya, Bumi dengan detailnya, dan Mars dengan detailnya."
"Itu sudah sangat lebih dari cukup, Lucy. Kamu berhasil membuatnya dengan sangat keren!"
"Terima kasih, Mia. Aku akan mengerjakan Saturnus dengan detailnya setelah ini." Lucy menarik laptopnya kemudian membalikkan badan, kembali ke mejanya.
Aku pikir Lucy akan membuatku urung diri menghitung luminositas bintang lain. Aku membuka buku Stars and Stellar Processes, mencari-cari bintang apa lagi yang akan kuhitung luminositasnya. Aku memerlukan informasi mengenai radius bintang dan suhu efektif permukaan bintang. Aku mendapati gambar Sirius yang indah. Sirius pernah menjadi bintang favoritku, disaat aku baru mulai mempelajari lebih dalam mengenai langit. Karena Sirius adalah yang paling terang setelah Matahari, sangat mencolok di langit malam hari dengan luminositas yang tinggi. Ya, aku sudah menghitung luminositasnya. Aku membalik-balik halaman yang berisi daftar bintang-bintang beserta informasi detailnya. Kemudian mendapati Capella di sudut kanan bawah. Aku belum pernah menghitung luminositasnya. Jadi, aku akan menghitungnya kali ini.
Sebelum aku mulai mencatat radius bintang dan suhu efektif permukaan Capella, Diego yang sedari tadi tidak berada di dalam kelas berdiri di pintu kelas dan memecahkan keheningan, "Professor Chloe tidak akan masuk hari ini."
"Apa yang terjadi? Mengapa Professor Chloe tidak akan masuk?" Taylor bertanya.
"Anaknya sedang sakit. Nikmati saja waktu luangmu. Dasar gila belajar." gerutu Diego. Diego adalah yang termalas diantara kami. Dia lebih suka memotret benda-benda langit daripada mempelajarinya lebih dalam. Tetapi jangan salah. Hasil potret-nya sangat bagus. Dia bahkan memiliki lebih dari lima ratus ribu pengikut di Instagram. "Oh, iya. Mia, Professor Adriel memanggilmu ke ruangannya segera. Kamu benar-benar tidak memiliki waktu untuk....." Diego tidak melanjutkan kalimatnya setelah melihat mejaku sudah dijejali buku dengan catatan yang terbuka penuh dengan coretanku. "Wah, benar-benar gila belajar." gerutu Diego lagi sambil meninggalkan kelas.
Aku tidak tahu alasan Professor Adriel memanggilku, mungkin ingin memberikan tugas mata kuliah Kosmologi untuk pekan depan. Tetapi, kami sudah diberi tugas untuk memotret nebula, lagi pula aku bukan ketua kelas. Aku berdiri dari dudukku. Beranjak keluar kelas untuk segera menghampiri Professor Adriel di ruangannya. Berjalan menelusuri lorong-lorong ruang belajar yang di setiap dindingnya dipenuhi oleh potret lulusan Universitas Barcelona yang berkontribusi besar untuk negara, bahkan dunia. Aku melewati potret Carme Jordi, Astrofisikawan yang berperan penting dalam misi Gaia milik Badan Antariksa Eropa yang bertujuan untuk memetakan miliaran bintang di galaksi Bima Sakti dengan presisi tinggi, menjadi data penting bagi komunitas Astronomi global. Xavier Luri, sekarang menjadi Direktur Institut Ilmu Kosmos di Universitas Barcelona, terlibat dalam berbagai proyek penelitian Astrofisika dan Kosmologi yang berkontribusi pada pemahaman struktur dan evolusi galaksi. Licia Verde, Kosmolog terkemuka yang mengambil bagian penting dalam analisis data pada misi Wilkinson Microwave Anisotropy Probe, membantu memahami asal usul dan evolusi alam semesta. Kemudian, aku mendapati pula potret Joan Oro, Biokimiawan terkenal yang berkontribusi secara signifikan dalam penelitian asal-usul kehidupan dan bekerja sama dengan NASA dalam program eksplorasi luar angkasa. Setelah itu, aku sedikit membelok ke kanan. Aku masih perlu menelusuri lorong-lorong jurusan Astronomi kemudian belok kiri setelahnya untuk tiba di ruangan Professor Adriel. Fasilitas Astronomi berada di bawah Departemen Fisika Kuantum dan Astrofisika, termasuk di dalamnya adalah Institut de Ciences del Cosmos (ICCUB). Gedung-gedungnya dirancang lebih modern dibandingkan gedung utama universitas. Tiang-tiang baja menjulang kokoh, sementara garis-garis arsitekturalnya tegas membentuk siluet futuristik. Setiap sudut bangunan memberikan kesan yang dinamis, perpaduan antara seni dan teknologi. Sedangkan, gedung utama universitas adalah warisan sejarah. Dengan gaya arsitektur yang menggabungkan elemen Neo-Romanesque dan Neo-Gothic, mencerminkan tren arsitektur abad ke-19 di Eropa. Fasad bangunan dengan lengkungan setengah lingkaran dan jendela bergaya Romanesque, sementara detail ornamen dan menara sudutnya menyuguhkan pengaruh Gothic. Langit-langit interiornya berkubah dengan dekorasi yang rumit, menghadirkan bekas perhatian terhadap detail dan keindahan pada masa itu.
Aku tiba di ruangan Professor Adriel. Pintu ruangannya sedikit terbuka, memberi ruang untuk kuintip sedikit. Tak kutemukan apa-apa selain dinding sudut ruangan yang terpasang poster besar bergambarkan galaksi Andromeda dengan Peta Cosmic Microwave Background disebelahnya. Terdengar suara beberapa orang sedang berbincang. Aku membuka pintu pelan-pelan, "Permisi, Prof."
Aku mendapati Professor Adriel dan dua orang pria sedang duduk bersama dengan dua cangkir kopi di meja. Dua cangkir kopi itu dipastikan milik dua orang pria itu, karena Professor Adriel tidak minum kopi dan mereka terlihat seperti teman lama yang jarang bertemu. Ruangan Professor Adriel benar-benar seperti portal menuju alam semesta. Dengan ukuran yang lumayan luas, dipenuhi oleh mural besar bergambarkan pemandangan luar angkasa yang memukau, berbagai macam nebula menghiasi. Rak-rak penuh dengan buku tebal diselingi oleh miniatur benda-benda langit. Beberapa buku terlihat sudah tampak usang. Di sudut kanan, sebuah globe raksasa tidak hanya menampilkan bumi yang bulat, tetapi juga peta bintang di bagian luarnya. Di sudut kiri, sebuah papan tulis yang hampir penuh dengan rumus kecepatan ekspansi alam semesta dan radiasi latar belakang kosmik. Di tengah-tengahnya, teleskop refraktor terletak di meja dekat jendela. Sedang di langit-langit, terdapat miniatur planet-planet tata surya yang bercahaya. Nampaknya itu bukan hanya miniatur, tetapi sekaligus lampu-lampu untuk menemani Professor Adriel beristirahat, atau duduk termenung memikirkan cara kerja alam semesta.
"Ayo duduk." Professor Adriel mempersilahkan aku untuk duduk. "Perkenalkan Mia, Professor Yama dan Dokter Omar." memperkenalku dengan dua orang pria itu.
"Mia, Prof, Dok." aku memperkenalkan diri dengan meletakkan tanganku di dada sebagai bentuk penghormatan.
"Saya Yama Kane. Dan ini keponakan saya, Omar Khalil." Professor Yama tersenyum. Membuat matanya yang alami sudah sipit menjadi lebih sipit, memberi kesan ramah dan bijak. "Professor Adriel banyak bercerita tentangmu."
Aku hanya diam. Apa yang Professor Adriel ceritakan? Dan mengapa aku dipanggil untuk segera ke ruangannya jika dia sedang bersama temannya?
"Mia, Professor Yama Kane ini adalah Astrofisikawan lulusan Universitas Barcelona. Mungkin dia lebih terlihat seperti warga negara asing, tetapi dia benar-benar orang Spanyol." Professor Adriel tertawa. Apakah itu candaan? Terlihat Professor Yama ikut tertawa. Oh, benar. Itu candaan. Aku pun ikut tertawa.
"Ayahku berasal dari Cina. Namun Ibuku Spanyol sejati." Professor Yama menyisakan tawanya.
"Aku telah menceritakan banyak tentangmu. Semakin kuceritakan, mereka semakin tertarik." ujar Professor Adriel.
"Benar. Kami harap kita bisa bekerja sama." Professor Yama semakin membuatku bingung.
Professor Adriel mungkin menyadari kebingunganku, "Jadi Mia, kamu adalah mahasiswaku yang paling menguasai Astronomi Posisi dan Mekanika Benda Langit. Jujur saja, aku rasa Professor Yama belum pernah bertemu dengan Astronom sepertimu. Kamu memiliki kemampuan yang menakjubkan."
Astronom? Mendengar Professor Adriel menyebutku sebagai 'Astronom', aku tak bisa menahan senyumku. Aku bahkan belum menyelesaikan proyek Kepler-22b-ku, Prof.
"Lihat. Dia begitu bangga dan mengagumimu." Professor Yama menunggingkan senyuman.
"Professor Adriel menceritakan bahwa kamu menguasai pergerakan benda-benda langit dan mengetahui jelas posisinya kapan pun dan dimana pun. Tanpa alat bantu. Tanpa intervensi. " Dokter Omar mulai bicara.
Aku mengangguk, "Ya, itu benar."
"Bahkan di siang hari pun. Aku bertanya-tanya, bagaimana kamu melakukannya?" Dokter Omar tampak penasaran.
Aku sedikit berpikir. Menguasai pergerakan benda-benda langit bahkan di saat kamu tidak melihatnya memang suatu hal yang menakjubkan, "Aku banyak menghabiskan waktuku untuk mengamatinya."
"Aku rasa kamu tidak butuh sesuatu untuk diamati di siang hari." Dokter Omar menyela. Dia benar-benar seperti seseorang yang penuh rasa ingin tahu dan ingin segera mendapatkan jawaban.
"Pelan-pelan, Omar. Mia bahkan tidak tahu kerja sama apa yang akan dilakukan." Professor Yama menyeruput kopinya.
"Benar, Prof. Kerja sama apa yang akan kita lakukan?" akhirnya aku bertanya.
"Begini Mia, kami sedang mengerjakan proyek SkyMap, suatu aplikasi yang dapat diakses siapa pun dan dimana pun untuk mengetahui dan mengamati pergerakan benda-benda langit. Kemampuanmu sangat dibutuhkan dalam proyek ini." Professor Yama mulai menjelaskan.
Aku terpaku. Itu adalah suatu proyek yang sangat besar dan menarik. Professor Adriel sempat menyinggung hal itu di kelas Kosmologi, akan ada aplikasi yang dapat mengakses pergerakan benda-benda langit. Tetapi, aku diperlukan dalam proyek ini? Aku masih terpaku. Mencoba untuk memahami betapa luar biasanya kemampuanku hingga dibutuhkan dalam proyek ini, "Bukankah ada yang lebih baik dariku untuk menjadi bagian dari proyek ini?"
"Seperti yang Professor Adriel katakan, aku memang belum pernah menemukan orang yang memiliki kemampuan sepertimu. Kamu mengetahui pergerakan benda-benda langit tanpa intervensi. Itu menunjukkan bahwa kamu benar-benar di atas kompetensi seseorang yang mencoba mengetahuinya melalui algoritma Newton maupun data orbit." benar sekali. Salah satu cara untuk mengetahui pergerakan benda-benda langit adalah dengan menggunakan algoritma hukum gravitasi Newton dan data orbit.
Percakapan ini membuatku kembali ke waktu demi waktu di saat aku mulai menyukai langit hingga benar-benar menghabiskan waktuku untuk mengamati pergerakannya. Aku kerap memandangi langit bersama Ibu di masa kecilku. Aku memandanginya bukan karena aku ingin, tetapi momen memandangi langit bersama Ibu sangat aku sukai. Ya, dapat dikatakan aku lebih menikmati momen bersama Ibu daripada memandangi langit, awalnya. Memandangi langit bersama Ibu adalah momen yang paling membangun keintiman-ku dengannya saat aku kecil, selain rutinitas liburan akhir pekan yang cenderung sering Ibu tinggalkan karena pekerjannya. Aku mengatakan ini bukan berarti aku tidak memiliki hubungan yang akrab dengan Ibuku. Itu waktu aku masih sangat kecil. Setelahnya aku sering menghabiskan waktu bersama Ibu, walaupun sebagian besar kebersamaanku dengannya adalah untuk menghadiri berbagai macam pertunjukan dan pameran produk-produk yang dipasarkan di La Hermosaz de Vida.
Kepergian Ibu sangat melukaiku. Selain hatiku yang belum cukup kuat menghadapi kepergiannya, Ibu adalah segalanya bagiku. Setelah Ibu dan Ayah berpisah, kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Ibu juga lebih sering masak. Sebenarnya hingga kini aku masih bertanya-tanya, mengapa tidak dari dulu Ibu lakukan itu? Menyempatkan diri untuk membuat sarapan sebelum berangkat kerja. Mungkin karena tidak ada Ayah, karena biasanya Ayah-lah yang membuat sarapan untuk kami. Ibu benar-benar mengandalkan Ayah untuk menyelesaikan urusan rumah. Semakin dewasa diriku, aku semakin mengerti dan memaklumi keputusan Ayah untuk berpisah dengan Ibu.
Saat Ayah mengabarkan kematian Ibu, aku bahkan tidak menangis. Aku tahu aku sangat mencintainya. Kabar itu memberikan rasa kehilangan yang begitu besar hingga aku merasa hampa dan tidak berdaya. Semua emosi seakan lumpuh, dan bumi seakan-akan berhenti berputar. Seakan-akan keterhentian bumi ingin menambah sesak dadaku. Kepergian Ibu mengubahku dengan sangat. Waktu demi waktu menghadapi kepergian Ibu, aku menjadi pribadi yang pendiam, padahal sebelumnya aku termasuk anak yang aktif dan sedikit cerewet. Aku menutup diriku dengan sekitar. Hanya bicara hal penting dan tidak suka bepergian. Di tiga bulan awal kepergian Ibu, aku bahkan rutin menemui psikiater yang Clara rekomendasikan kepada Ayah. Bukan hanya kematian Ibu yang membuatku terguncang, tetapi kenyataan bahwa mungkin saja aku adalah penyebab kematiannya. Jika aku segera mengenakan sabuk pengaman setelah Ibu meminta, Ibu tidak harus melepaskan sabuk pengamannya, mengorbankan nyawanya untukku. Selain rasa kehilangan, rasa bersalah benar-benar menghantui sepanjang hidupku. Namun, Ayah dan Paolo selalu menghiburku. "Yang terjadi memang harus terjadi, Mia. Kita tidak bisa mengontrol apa-apa yang memang sudah ditakdirkan. Kamu bukan penyebab dibalik kematian Ibu. Walau kamu mengenakan sabuk pengaman pun, kematian Ibu tetap akan terjadi." kata Ayah. Sedangkan, Paolo menghiburku dengan cara lain, "Mengapa harus sedih berlarut-larut? Jika memang kamu penyebab kematian Ibu, aku benar-benar akan membencimu, Mia. Sadarlah. Seharusnya kamu bangga dengan Ibu, melakukan hal yang luar biasa spektakuler, untukmu. Itu membuktikan betapa dia mencintaimu. Betapa kamu adalah segalanya baginya. Kamu harus bahagia karena itu."
Semua yang terjadi perlahan-lahan membentuk karakterku menjadi seorang remaja yang penyendiri, tetapi tidak pemalu. Sebenarnya, menyendiri adalah caraku untuk menenangkan diri. Berinteraksi dengan banyak orang hanya membuatku lelah. Menyendiri bukan berarti aku berdiam diri tidak melakukan apa-apa. Banyak hal yang kulakukan saat sendiri, yang paling kusukai adalah memandangi langit, terutama langit malam. Semenjak kepergian Ibu, memandangi langit adalah aktivitas yang paling menenangkan dan menghiburku. Awalnya, aku memandangi langit hanya untuk mengenang momen-ku bersama Ibu. Tetapi, lama kelamaan aku menjadi benar-benar jatuh cinta dengan langit. Di sana, di kegelapan yang tak terhingga, aku menemukan kedamaian yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Aku yang penyendiri benar-benar menemukan suatu keheningan di atas sana, seolah-olah alam semesta mencoba untuk menyampaikan sesuatu dengan bahasa rahasia yang hanya dapat didengar oleh hati yang berusaha kuat untuk menemukan kedamaian. Saat aku memandanginya, dunia seakan-akan menghilang, meninggalkan hanya aku dan semesta yang luas penuh dengan keselubungan. Semakin lama kulakukan, aku semakin jatuh cinta hingga aku tidak saja memandangi langit, tetapi juga mengamati pergerakannya. Aku mengamati pergerakan langit setiap malam. Aku yang mulanya menyukai buku-buku novel, mulai mengoleksi buku-buku ilmiah tentang langit dan alam semesta. Cosmos oleh Carl Sagan adalah buku ilmiah yang pertama aku beli. Sekarang, aku sudah mengoleksi lebih dari 150 buku ilmiah yang kususun rapi di rak buku kamarku. Dengan buku-buku ilmiah-ku, aku mulai mengetahui berbagai macam benda-benda langit yang kuamati pergerakannya. Di tahun pertama sekolah menengah pertama, aku sudah dapat mengenal benda-benda langit tata surya hanya dengan melihatnya. Di tahun kedua, aku sudah menguasai pergerakan benda-benda langit di tata surya tersebut. Di tahun berikutnya, aku mulai mempelajari dan mengamati pergerakan benda-benda langit di luar tata surya, di dalam Milkyway, yang cenderung tetap sama. Kecenderungan itu membuatku lebih mudah untuk mengenal benda-benda langit di dalamnya. Hanya butuh waktu 2 tahun, aku dapat mengetahui dengan tepat sebagian besar benda-benda langit di Milkyway hanya dengan melihatnya. Aku mendapatkan penghargaan sebagai The Greatest Obsever di klub pecinta langit sekolah menengah atasku. Karena penghargaan itu, aku menjadi satu-satunya siswa yang diundang Universitas Barcelona untuk melanjutkan studi sebagai mahasiswa Astronomi. Di bulan kelima studi di Universitas Barcelona, aku sudah membuat penelitian mengenai waktu benda-benda langit akan terbit di berbagai belahan bumi, memposisikan diriku sebagai pengamat hanya dengan koordinat belahan bumi lain yang inginku ketahui waktu terbit benda-benda langitnya. Membutuhkan ketelitian yang sangat dalam melakukan perbandingan demi perbandingan rasio satu tempat dengan tempat yang lain untuk mengetahui waktu terbit benda-benda langitnya. Di awal kecintaanku terhadap langit, Paolo langsung menyadarinya, karena sebagian besar waktuku kugunakan untuk memandangi langit dan tidak jarang Paolo menemaniku. Sementara Ayah segera membelikanku teleskop setelah mengetahuinya. Aku benar-benar semakin asyik sendiri. Namun, di sekolah menengah atas, aku menjadi antusias sekali bergabung ke dalam klub pecinta langit. Aku mulai suka berkumpul bersama teman-teman klub-ku. Seiring berjalannya waktu aku menyadari, aku suka menyendiri dan suka bersama mereka yang memiliki banyak kesamaan dan saling dapat memahami. Di akhir sekolah menengah atas, aku sudah menguasai hampir seluruh pergerakan benda-benda langit yang dapat dilihat dari Bumi.
"Aku mengamati langit dari usiaku 12 tahun, Prof. Menurutku, itu suatu pencapaian yang normal untuk seseorang yang sudah mengamati langit dan pergerakannya selama 10 tahun." kataku.
"Lalu, bagaimana denganku yang sudah mengamati langit selama 30 tahun, Mia?" pertanyaan Professor Yama membuatku ikut bertanya-tanya pada diriku sendiri.
"Aku memiliki daya ingat dan ketelitian yang sangat membantuku untuk itu, Prof." aku selalu mencoba untuk menganggap bahwa kemampuanku tidaklah begitu luar biasa. Jika memang orang-orang beranggapan seperti itu, yang patut untuk dikagumi ialah daya ingat dan ketelitianku.
"Tentu saja. Daya ingat dan ketelitianmu benar-benar menakjubkan. Karena itu, kami membutuhkanmu dalam proyek ini." ucap Professor Yama. "Apakah kamu bersedia?" tambahnya dengan tatapan yang bertanya padaku.
Ini suatu proyek yang besar. Tentu aku ingin menjadi bagian dari proyek besar ini, "Bersedia, Prof."
"Terima kasih, Mia. Kita sudah disediakan satu ruangan khusus untuk meneliti proyek ini oleh Universitas Barcelona berkat Professor Adriel, di sebelah ruang Eksplorasi Planet. Kamu sudah bisa datang ke ruangan minggu depan." Professor Yama menepuk pundak Professor Adriel.
"Ini suatu proyek yang fantastis. Aku sudah menduganya. Aku senang mahasiswa-ku bisa menjadi bagian dari proyek ini." Professor Adriel tersenyum kemudian sorot matanya melirikku, menunjukkan kebanggaan.
Aku juga bangga memiliki guru seperti dirimu, Prof.
Comments
Post a Comment